Butuh Bantuan? WhatsApp: 0821-3694-1626 Email: [email protected]

Buku Fiqih Sunnah Wanita

Penerbit:

Buku Fiqih Sunnah Wanita

Penerbit:

Spesifikasi

ISBN6026247122
Halaman848
Dimensi (cm)24
Berat (gram)1165
HargaRp 130.000
SampulHard Cover

Wanita adalah salah satu makhluk spesial ciptaan Allah SWT. Mereka juga menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya, dan memiliki peran yang sangat penting dalam mengantarkan baik dan tidaknya suatu bangsa dan peradaban. Selain itu, mereka adalah hamba Allah SWT yang dituntut untuk beribadah kepadanya dengan cara yang benar. Begitu sempurna dan indhanya ajaran agama islam yang telah mengembalikan kedudukan wanita sesuai kodrat dan fitrahnya. Islam telah memberikan hak dan kewajibannya sesuai dengan yang dibutuhkannya. Tidak ada perbedaan kewajiban secara akidah antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mendapatkan kewajiban keimanan dan penghargaan yang sama.

Namun disisi lain Allah memberikan tuugas-tugas khusus kepada kaum wanita yang tidak dibebankan kepada laki-laki. Allah memberikan tugas kepada mereka untuk hamil, melahirkan, menyusui dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, Allah membentuk fisik mereka sesuai dengan tugas-tugasnya. Karena adanya tugas-tugas khusus itu Allah memberlakukan hukum-hukum yang khusus pula, sehingga ada perbedaan hukum diantara sisi ibadah dan mu’amalah antara laki-laki dan perempuan. Dari sinilah muncul fiqh yang menjelaskan tentang hukum-hukum yang terkai dengan kekhususan wanita, atau biasa disebut Fiqh Nisa’.

Fiqh Nisa’ ini bukan hanya penting dipahami oleh kalangan wanita, namun juga menjadi hal yang penting dipahami oleh kalangan laki-laki, sebab pada prinsipnya laki-lakilah yang menjadi pemimpin wanita, juga bertanggung jawab terhadap pemahaman akan urusan ibadah dan semua hukum yang terkait dengannya.

Kehadiran buku Shahih Fikih Wanita ini memberikan jawaban tentang semua hal hukum yang berkaitan dengan urusan wanita. Maka dari itu, buku ini perlu dimiliki dan dipahami kandungannya oleh semua kalangan. Selamat membaca!

Daftar Isi

KATA PENGANTAR – V
DAFTAR ISI – VII
KATA SAMBUTAN – 1
MUKADIMAH – 3
BAB 1. THAHARAH – 9
A. DEFINISI THAHARAH (BERSUCI) – 11
B. AIR SARANA UNTUK THAHARAH – 11
C. MACAM-MACAM AIR – 11
1. Air yang suci (Thahur) – 11
2. Air Najis – 12
D. PERMASALAHAN TERKAIT HUKUM AIR --- 12
1. Air bekas wudhu – 12
2. Keraguan akan kesucian air – 13
E. MACAM-MACAM NAJIS BESERTA DALILNYA – 13
1. Kotoran (tinja) manusia – 13
2. Air kencing manusia – 13
3. Madzi – 14
4. Wadi – 14
5. Darah haid – 14
6. Kotoran ghewan yang dagingnya tidak boleg di makan – 15
7. Air liur Anjing –15
8. Babi – 16
9. Bangkai – 17
10. Bekas minum binatang buas yang dagingnya haram dimakan – 18
F. CARA MENYUCIKAN NAJIS – 18
1. Cara mensucikan pakaian dari darah haid – 19
2. Cara mensucikan pakaian dari bekas air kencing Bayi yang masih menyusui – 20
3. Cara mensucikan pakaian dari Madzi – 20
4. Cara mensucikan ujung pakaian wanita (Abaya/gamis wanita) – 20
5. Cara mensucikan bagian dari sandal (sepatu) – 21
6. Cara mensucikan wadah yang terkena jilatan anjing – 21
7. Cara mensucikan kulit bangkai dengan menyamaknya – 21
8. Cara mensucikan tanah yang terkena Air kencing dan sejenisnya – 22
9. Cara mensucikan air sumur atau mentega yang kejatuhan Najis – 222
10. Tentang Najis yang telah berubah sifat dan wujudnya – 22
11. Pakaian ibu menyusui yang terkena air susunya sendiri – 22
G. SUNNAH-SUNNAH FITRAH – 23
1. Khitan – 23
2. Siwak – 24
H. ETIKA BUANG HAJAT – 26
I. WUDHU – 31
1. Tata cara berwudhu – 31
2. Syarat sha wudhu – 32
3. Rukun wudhu – 33
4. Sunnah-sunnah wudhu – 36
5. Hal-hal yang membatalkan wudhu – 41
6. Hal-hal yang tidak membatalkan wudhu – 45
7. Ibadah yang harus dilakukan dengan wudhu – 49
8. Perkara-perkara yang disunnahkan untuk dilakukan dengan wudhu – 50
9. Perkara-perkara penting terkait masalah wudhu – 53
J. MENGUSAP KHUFF – 55
1. Persyaratan mengusap Khuff – 55
2. Hukum mengusap kaos kaki dan sandal – 55
3. Hukum mengusap khuff – 56
4. Syarat mengusap khuff dan kaos kaki – 56
5. Bagian khuff yang harus diusap – 57
6. Masa berlaku pengusapan khuff – 58
7. Hal-hal yang menyebabkan pengusapan khuff tidak sah – 58
K. MANDI – 60
1. Hal-hal yang mewajibkan mandi bagi seorang wanita – 60
2. Syarat sahnya mandi – 66
3. Rukun Manid wajib – 66
4. Tata cara mandi wajib karena Junub – 67
5. Cara mandi wajib karena Haid dan nifas – 69
6. Mandi-mandi sunnah – 72
L. TAYAMMUM – 74
1. Debu (tanah) yang boleh untuk bertayammum – 78
2. Tata cara Tayammum --- 78
3. Hal yang membatalkan Tayammum – 78
M. HADI DAN NIFAS – 79
1. DARAH HAID – 79
2. DARAH NIFAS – 92
3. DARAH ISTIHADHAH – 93
BAB 2 SHALAT – 97
A. DEFINISI DAN KEDUDUKAN SHALAT – 99
B. HUKUM MENINGGALKAN SHALAT – 99
C. JUMLAH SHALAT WAJIB – 100
D. WAKTU-WAKTU SHALAT – 100
1. Waktu Zhuhur – 101
2. Waktu Ashar – 102
3. Waktu Magrib – 103
4. Waktu Isya – 104
5. Waktu Shubuh – 105
E. HUKUM SHALAT PADA AKHIR WAKTU – 105
F. MENINGGALKAN SHALAT KARENA LIUPA ATAU TERTIDUR – 106
G. HUKUM MENINGGALKAN SHALAT TANPA SEBAB – 107
H. ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT TAHUNAN – 108
I. MENGQADHA SHALAT YANG TIDKA DILAKUKAN --- 108
J. MENGQADHA SHALAT SESUAI DENGAN URUTANNYA – 108
K. METODE MENGERJAKAN SHALAT YANG DIQADHA – 109
L. WAKTU-WAKTU TERLARANG UNTUK MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH – 109
M. ADZAN – 112
N. SYARAT SAH SHALAT BAGI WANITA – 113
1. Mengetahui masuknya waktu shalat – 114
2. Suci dari Hadats kecil dan besar sesuai kemampuan – 114
3. Suci pakaian,badan dan tempat shalat – 114
Tempat-tempat terlarang untuk mengerjakan shalaat – 116
4. Menutup aurat semampunya – 117
Batasan aurat wanita ketika shalat – 118
Masalah kaki wanita dalam shalat – 119
5. Menghadap kiblat – 120
6. Niat – 122
O. TATA CARA SHALAT RASULULLAH SAW – 123
P. RUKUN-RUKUN SHALAT – 127
1. Takbiratul ihram – 128
2. Berdiri ketika shalat fardhu bagi yang mampu – 128
3. Membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat – 131
4. Ruku’ dengan Thuma’ninah – 132
5. I’tidal dengan Thuma’ninah – 133
6. Sujud dengan Thuma’ninah – 133
7. Duduk diantara dua sujud dengna Thuma’ninah – 134
8. Duduk dan membaca tasyahud Akhir – 134
9. Mengucapka salam – 135
10. Mengerjakan Rukun-rukun shalat dengan tertib – 135
Q. HAL-HAL YANG WAJIB DIKERJAKAN DALAM SHALAT – 136
1. Takbir perpindahan (intiqal) – 136
2. Mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” – 136
3. Mengucapka “Rabban lakal-hamd” – 137
R. SUNNAH-SUNNAH DALAM SHALAT – 138
1. SUNNAH-SUNNAH QAULIYAH (BERBENTUK UCAPAN/BACAAN) – 138
a) Membaca doa Istiftah – 138
b) Membaca Isti’adzah senelum membaca surat – 140
c) Mengucapkan Amin setelah membaca Al-Fatihah – 142
d) Membaca surat Al-Qur’an setelah membaca Al-Fatihah – 142
e) Membaca tasbih ketika Rukuk dan Sujud – 144
f) Membaca Bacaan Dzikir ketika rukuk, diantaranya: -- 145
g) Membaca Dzikir ketika berdiri setelah rukuk (setelah membaca Rabbana wa lakal hamdu) – 146
h) Membaca dzikir ketika sujud – 146
h) Berdoa diantara dua sujud --- 148
i) Membaca shalawat atas Nabi setelah duduk tasyahud awal dan akhir – 148
j) Membaca doa setelah tasyahud awal dan akhir – 149
k) Mengucapkan salam kedua – 150
l) Berzikir dan berdoa setelah shalat – 151
2. SUNNAH-SUNNAH FI’LIYAH (GERAKAN/PERBUATAN),yaitu – 154
a) Meletakkan sutrah (pembatas) – 154
b) Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, hendak Rukuk, bangkit dari rukuk, dan saat berdiri dari tasyahud awal – 157
c) Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dada – 157
d) Melihat ke arah tempat sujud – 158
e) Meretakan punggung, tidak mengangkat atau menundukkan kepala, menggenggam kedua lutut dan merenggangkan jari-jari tangan ketika rukuk – 158
f) Meletakkan tangna terlebih dahulu sebelum lutut ketika sujud – 158
g) Menempelkan dahi, hidung, dan dua telapak tangan ke lantai; telapak tangan sejajar dengan pundak atau telinga; merenggangkan kedua siku dan menjauhkannya dari lambung, serta tidka menempel di lantai; menegakkan telapak kaki, kedua tumit menempel dan mengarahkan ujung jari-jari kaki ke arah kiblat – 159
h) Duduk iftirasy di antara dua sujud – 160
i) Memperpanjang waktu duduk di antara dua sujud – 160
j) Duduk isitrahat (duduk setelah sujud sebelum berdiri untuk rakaat ke dua atau ke empat) – 161
k) Bertumpu ke lantai dengan kedua tangan ketika hendak berdiri – 161
l) Duduk iftirasy untuk tasyahud pertama dan duduk tawaruk untuk tasyahud kedua – 161
m) Menunjuk dengan jari telunjuk ketika membaca tasyahud – 162
S. PERKARA-PERKARA YANG DIBOLEHKAN SAAT SHALAT – 163
1. PERBUATAN ATAU GERAKAN YANG DIBOLEHKAN KETIKA SHALAT – 163
a) Menggendong anak kecil – 163
b) Berjalan sedikit karena suatu keperluan – 163
c) Bergerak untuk menyelamatkan atau menolong seorang anak kecil yang hendak terjatuh atau terancam suatu bahaya – 164
d) Mencegah atau menghalangi orang yang mau lewat di depanmu saat shalat – 164
e) Membunuh Ular, kalajengking atau hewan apapun yang membahayakan – 164
f) Memberi isyarat dengan sentuhan (tangan atau kaki) kepada orang yang tidur karena suatu keperluan – 165
g) Melepas sandal dan sejenisnya ketika shalat karena suatu kepentingan – 165
h) Meludah dipakaian atau di sapu tangan (tisu) – 165
i) Merapikan pakaian dan menggaruk anggota badan – 166
j) Memberi isyarat dengan tepuk tangan atau membaca tasbih ketika melihat kesalahan imam disaat shalat – 166
k) Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk suatu keperluan penting – 167
l) Memberi isyarat dengan tangan atau kepala karena suatu keperluan penting – 167
m) Menjawab salam dengan isyarat – 168
n) Mengangkat kepala unutk memastikan imam sudah selesai dari sujudnya – 168
o) Membaca mushaf Al-Qur’an karena hajat ketika sedang shalat sunnah – 169
2. UCAPAN YANG DIPERBOLEHKAN DALAM SHALAT – 169
a) Memperbaiki bacaan imam ketika salah atau lupa – 169
b) Mengulang-ulang ayat tertentu dalam shalat sunnah – 170
c) Menangis dan merintih saat shalat – 171
d) Meniup sesuatu karena kebutuhan – 173
e) Berdehem kerika shalat – 173
f) Mengucapkan satu atau dua kalimat karena suatu maslahat – 174
g) Mengucapkan “HAMDALAH” ketika bersin – 174
h) Mengucapkan hamdalah ketika shalat karena mengalami sesuatu yang menggembirakan – 176
i) Bertanya atau berbicara kepada orang yang sedang shalat karena suatu hajat – 176
T. HAL-HAL YANG DILARANG DALAM SHALAT – 176
1. Meletakkan tangan dipinggang (bertolak pinggang) --- 176
2. Memandang ke atas selama shalat – 177
3. Memperhatikan sesuatu yang bisa mengganggu shalat – 177
4. Menoleh tanpa ada kepentingan – 178
5. Manyilangkan jari-jari tangan -- -- 178
6. Membunyikan sendi-sendi jari tangan – 179
7. Mengenakan pakaian shalat yang menyerupai selimut – 179
8. Menguap dalam shalat – 179
9. Meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanan – 180
10. Memejamkan kedua mata – 180
11. Menggeliat dalam shalat – 181
12. Melakukan tathbiq saat rukuk – 181
13. Membaca ayat Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud – 181
14. Menghamparkan kedua tangan ke lantai ketika sujud – 181
15. Menyingsingkan mukena agar tidak terurai ke lantai ketika sujud -- 182
16. Duduk di atas pantat (iqa’) – 182
17. Menaruh atau menempelkan tangan ke lantai untuk menjadi tumpuan duduk (kecuali jika Udzur) – 182
18. Orang sakit tidak boleh sujud dengan cara menempelkan dahi ke suatu benda yang didekatkan ke kepalanya – 183
19. Menyinkirkan kerikil (debu) dari tempat sujud dan bermain-main dalam shalat – 183
20. Menempelkan lutut kelantai terlebih dahulu sebelum tangan ketika sujud – 184
21. Mengucapkan salam dengna melambaikan tangan kanan dan kiri – 185
22. Mendahului Imam – 185
U. PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN SHALAT – 186
1. Merasa yakin telah berhadats – 186
2. Meninggalkan salah satu syarat atau rukun shalat tanpa udzur – 186
3. Makan atau mimnum dengna sengaja di tengah-tengah shalat – 186
4. Berbicara dengan sengaja – 187
5. Tertawa dengna mengleuarkan suara – 188
V. SHALAT-SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) – 188
1. SHALAT SUNNAH RAWATIB – 189
2. SHALAT SUNNAH GHAYRU RAWATIB ( BUKAN RAWATIB) – 192
a) Shalat qitir – 192
b) Shalat malam (tahajjud) – 199
c) Shalat tarawih – 206
d) Shalat dhuha – 207
e) Shalat istikharah – 208
f) Shalat sunnah setelah wudhu – 209
g) Shalat tahiyyatul masjid – 210
h) Shalat taubat – 210
i) Shalat sunnah setelah thawaf – 211
j) Shalat gerhana – 211
Tata cara melaksanakan shalat gerhana – 212
k) Shalat istisqa – 212
Sunnah-sunnah dalam shalat istisqa: -- 213
l) Sujud tilawah – 214
m) Sujud syukur – 215
n) Sujud sahwi – 215
Sujud sahwi dalam shalat sunnah – 218
Sujud sahwi bagi makmum dalam shalat berjamaah – 219
Cara melakukan sujud sahwi – 219
W. SHALAT BERJAMAAH BAGI WANITA – 219
1. BERMAKMUM KEPADA SEORANG WANITA – 219
i. Yang paling berhak menjadi Imam di antara kaum wanita – 220
ii. Posisi imam wanita – 221
iii. Shaf (barisan) yang paling baik bagi kaum wanita – 221
iv. Mengeraskan bacaan atau melirihkannya? – 222
2. BERMAKMUM KEPADA SEORANG LAKI-LAKI – 222
a) Hal-hal yang harus diperhatikan – 223
b) Wanita boleh bermakmum kepada Anak kecil laki-laki – 224
HUKUM-HUKUM TERKAIT SHALAT BERJAMAAH – 225
1. Meluruskan shaf dan mengisi tempat yang kosong – 225
2. Berusaha untuk datang ke masjid lebih awal agar bisa mendapatkan takbiratul ihram imam – 225
3. Wajib mengikuti gerakan shalat imam dan tidak mendahuluinya – 226
4. Jangan terlalu lama atau jauh dari gerakan imam – 226
HUKUM DAN ADAB PERGI KE MASJID UNTUK WANITA – 232
1. Tidak memakai wewangian dan perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah – 233
2. Berdzikir ketika keluar rumah – 233
3. Berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa – 234
4. Berzikir ketika masuk dan keluar masjid – 234
5. Mengerjakan shalat tahiyatul masjid dua rakaat sebelum duduk – 235
6. Jika shalat berjamaah telah didirikan, jangan jangan mengerjakan shalat sunnah – 235
7. Segera pulang ke rumah setelah selesai shalat – 235
8. Sebelum pergi ke masjid, hendaknya jangan memakan bawang merah, bawang putih, atau makanan apapun yang bisa menimbulkan bau tidak enak – 236
9. Jangan meludah di dalam masjid – 236
10. Jangan mencari-cari benda yang hilang dan melakukan jual beli di dalam masjid – 237
11. Dilarang berteriak (meninggikan suara) di dalam masjid – 237
12. Diperbolehkan makan, minum dan tidur di masjid selama tidak mengotorinya dan tidak menimbulkan fitnah – 238
SHALAT SEORANG WANITA DI RUMAHNYA LEBIH UTAMA DARIPADA DI MASJID -- 238
X. SHALAT WANITA DALAM PERJALANAN 240
1. SHALAT QASHAR – 240
a. Kapankah diperbolehkan mengqashar shalat? – 241
b. Jarak perjalanan yang membolehkan shalat qahsar – 242
c. Jangka waktu perjalanan diperbolehkannya mengqashar shalat – 242
d. Tidak disyaratkan harus berniat shalat qashar – 242
e. Bila seorang mukim bermakmum kepada musafir atau sebaliknya – 243
f. Shalat sunnah nafilah dalam perjalanan – 244
2. MENJAMAK SHALAT – 245
a. Dalam perjalanan – 245
b. Ketika ada suatu keperluan yang penting dan mendesak – 246
Y. SHALAT JUMAT BAGI WANITA – 247
1. KAUM WANITA TIDAK WAJIB MENGHADIRI SHALAT JUMAT – 247
2. KAUM WANITA BOLEH MENGHADIRI DAN IKUT MENGERJAKAN SHALAT JUMAT – 247
3. PERSIAPAN SEBELUM MENGHADIRI SHALAT JUMAT – 248
a. Mandi – 248
b. Memerhatikan dan menjaga Adab pergi ke masjid – 248
c. Berangkat ke masjid lebih awal – 248
4. HAL-HAL YANG BOLEH DILAKUKAN DI MASJID SBELUM KHTUBAH DI MULAI – 249
a. Mengerjakan shalat tahiyatul masjid – 249
b. Jangan duduk-duduk menggerombol atau membuat suatu majlis perbincangan – 249
c. Shalat sunnah dua rakaat setelah azan, atau setelah khatib naik ke mimbar tidak dibenarkan – 150
5. HAL-HAL YANG DILAKUKAN KETIKA KHATIB SEDANG BERKHUTBAH – 250
a. Wajib mendengarkan khutbah dengan seksama – 250
b. Tidak boleh berbicara dengan orang lain – 251
c. Engkau boleh berbicara sebelum dan sesudah khutbah selesai, atau di tenganh-tengah khutb ha ketika Imam atau khatib sedang daim dalam khutbahnya – 251
d. Tidak diperbolehkan melangkahi pundak jamaah wanita yang lain kecuali jika engkau bermaksud menuju tempat yang kosong di tengah shaf, atau ingin kembali ke tempat semula setelah engkau keluar – 251
e. Jangan memisahkan dua orang yang sudah duduk berdampingan terlebih dahulu – 252
f. Engkau tidak boleh memaksa orang lain pindah dari tempat duduknya agar engkau bisa menempati tempat duduknya itu – 252
g. Jika mengantuk ketiika mendengarkan khutbah, hendaknya engkau pindah tempat duduk. Rasulullah SAW bersabda : -- 252
h. Apabila saat mendengarkan khutbah engkau teringat bahwa engkau belum melaksanakan satu shalat fardhu lantaran luipa atau tertidur, sementara khutbha sedang berlangsung, maka engkau harus berdiri dan mengqadha shalat tersebut saat itu juga. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah SAW : -- 253
6. BEBERAPA HUKUM TERKAIT SHALAT JUMAT --- 253
a. Shalat jumat terdiri dari dua rakaat – 253
b. Bila seseorang tertinggal satu rakaat atau lebih dari shalat jumat – 253
c. Apabila masjid penuh dan sesak – 254
7. HAL-HAL YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN OLEH WANITA SETELAH SHALAT JUMAT – 255
8. AMALAN-AMALAN SUNNAH PADA HARI JUMAT – 256
a. Memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi – 256
b. Membaca surat Al-Kahfi – 256
c. Memperbanyak Doa dan mencari waktu-waktu mustajab – 256
Z. SHALAT HARI RAYA – 257
1. Anjuran bagi wanita haid utuk menghadiri shalat ied – 258
2. Bertakbir bersama manusia – 258
3. Waktu shalat ied – 259
4. Pelaksanaan shalat ied tanpa didahului azan dan iqamat – 259
5. Tata cara pelaksanaan shalat ied – 260
6. Setelah shalat, disunnahkan bagi imam untuk berkhutbah – 260
7. Hal-hal yang disunnahkan pada hari raya – 260
8. Dipoerbolehkan bagi gadis-gadis kecil untuk bersenandung pada hari raya selama tidak mengandung hal yang diharamkan – 261
BAB 3 JENAZAH – 263
A. MENGHADAPI SAKARATUL MAUT – 265
1. Menuntunnya membaca kalimat syahadat (talqin) – 265
2. Menghadapkannya ke arah kiblat – 265
Tata cara menghadapkan jenazah ke arah kiblat – 266
B. KETIKA SESEORANG BARU DIACABUT RUHNYA – 266
1. Memejamkan kedua matanya – 266
2. Mendoakannya – 267
3. Menyelimuti seluruh tubuhnya dengna kain – 267
4. Segera mengurusnya dan mengantarnya ke makam – 267
5. Menyegerakan pelunasan Utang-utangnya – 268
C. HAL YANG BOLEH DILAKUKAN TERHADAP JENAZAH – 268
1. Membuka kain penutup wajahnya dan menciumnya 268
2. Menangisi jenazah dengna wajar – 269
D. PERIHAL MENDENGAR KABAR KEMATIAN – 271
E. HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN KETIKA MENDENGAR KABAR MUSIBAH KEMATIAN SEORANG KERABAT – 272
1. Meratapi kematian Mayit (Nihayah) – 272
2. Menampar-nampat wajah dan merobek0robek pakaian – 273
3. Memotong rambut atau membiarkannya acak-acakan – 274
F. KEWAJIBAN MEMANDIKAN JENAZAH – 274
1. Kewajiban memandikan jenazah – 274
2. Cara memandikan jeazah wanita – 275
3. Seorang suami boleh memandikan jenazah istrinya – 281
4. Seorang ayah boleh memandikan jenazah putrinya -- 281
5. Seorang istri boleh memandikan jenazah suaminya – 281
6. Seorang wanita boleh memandikan jenazah anak kecil laki-laki – 282
7. Bagaimanakah bilka seorang pria wafat di tengah –tengah kaum wanita dan tidak ada pria lainnnya? Dan bagaimanakah bila yang terjadi sebaliknya? – 282
8. Wanita haid atau orang yang junub bolleh memandikan jenazah – 282
9. Jenazah wanita yang meninggal pada saat haid atau junub – 283
10. Hukum mandi setelah memandikan jenazah – 283
11. Bila seorang wnaita meninggal dan di dalam perutnya ada janin yang masih hidup – 283
12. Bila ada jenazah yang sudah dikubur dan belum di mandikan – 284
13. Apakah janin yang gugur perlu dimandikan? – 284
14. Orang yang mati syahid tidak perlu dimandikan – 284
G. MENGAFANI JENAZAH – 285
H. MENGANTAR JENAZAH KEKUBURAN – 287
1. Mengantar jenazah bagi wanita – 287
2. Wanita tidak boleh memikul jenazah – 288
I. SHALAT JENAZAH – 288
1. Hukum shalat jenazah – 288
2. Wanita boleh menshalatkan jenazah – 288
3. Di manakah shalat jenazah boleh dilaksanakan? – 289
4. Posisi Imam shalat bila jenazahnya wanita – 289
5. Shaf makmu shalat jenazah – 289
6. Bila jenaazahnya banyak dan terdiri dari jenazah pria dan juga wanita --- 290
7. Tata cara pelaksanaan shalat jenazah – 291
Barbagai permasalahan dalam shalat jenazah – 294
8. Berbagai permasalahan terkait shalat jenazah – 294
J. MENGUBURKAN JENAZAH – 296
1. Hukum menguburkan jenazah—296
2. Tempat menguburkan jenazah – 297
3. Waktu yang dimakruhkan untuk menguburkan jenazah – 297
4. Menggali kuburan – 298
5. Orang yang boleh menguburkan jenazah wanita – 299
K. TAKZIYAH – 303
1. Hukuim takziyah – 303
2. Hal-hal yang dimakruhkan ketika bertakziyah – 304
L. ZIARAH KUBUR BAGI WANITA – 305
1. Hukum ziarah kubur – 205
2. Hal-hal yang harus diperhatikan kaum wanita saat berziarah – 307
3. Hal-hal yang bermafaat bagi wanita setelah ia wafat – 307
4. Hukum memnghadirkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang yang telah meninggal dunia –309
M. IHDAD (HARI BERKABUNG) WANITA TERHADAP JENAZAH – 310
1. Pengertian -- 310
2. Masa berkabung wanita yang ditinggal mati suaminya – 310
3. Masa berkabung wanita yang ditinggal mati orangtua, saudara ataupun kerabat dekatnya – 311
4. Yang tidka boleh dilakukan oleh wanita yang sedang berkabung – 312
5. Perkara yang boleh dilakukan oleh wanita yang sedang berkabung – 314
N. MASA IDDAH – 315
1. Definisi Iddah – 315
2. Dimanakah masa iddah wanita harus dijalani? – 315
3. Masa iddah wanita hamil yang ditinggal mati suaminya – 316
BAB 4 ZAKAT, SEDEKAH DAN JUA BELI – 317
A. DEFINISI DAN KEDUDUKAN ZAKAT – 319
B. ANCAMAN BAGI ORANG YANG MENOLAK MENGELUARKAN ZAKAT – 319
1. Dalil dari Al-Qur’an – 319
2. Dalil dari Hadits – 320
C. HARTA YANG WAJIB DIZAKATI – 321
1. EMAS DAN PERAK – 321
Nisab Emas – 321
Nisab Perak – 321
2. UANG ATAU SURAT-SURAT BERHARGA – 322
3. GAJI DAN HASIL USAHA – 322
4. PERHIASAN EMAS DAN PERAK – 323
5. MAHAR (MASKAWIN) – 327
6. HASOIL PERTANIAN DAN PERKEBUNAN – 327
7. HEWAN TERNAK – 329
8. HARTA PERNIAGAAN (BARANG DAGANGAN) – 332
Apakah barang dagangan wajib dizakati? – 332
9. HARTA RIKAZ (HARTA TERPENDAM-HARTA KARUN) – 334
D. YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT – 334
E. ZAKAT FITRAH – 339
1. HUKUM ZAKAT FITRAH – 339
2. HIKMAH PERSYARIATAN ZAKAT FITRAH – 339
3. SIAPAKAH YANG WAJIB MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH? – 340
4. KADAR ZAKAT FITRAH – 340
5. WAKTU PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH – 341
6. KEPADA SIAPAKAH ZAKAT FITRAH DIBERIKAN? – 342
F. SEDEKAH SUNNAH – 342
1. Hukum seorang istri mengeluarkan sedekah tanpa izin suami – 343
2. Sedekah seorang wanita kepada keluarganya – 344
G. HUKUM JUAL BELI BAGI WANITA – 345
BAB 5 PUASA – 347
A. DEFINISI DAN KEUTAMAAN PUASA – 349
B. JENIS-JENIS PUASA – 349
Puasa wajib – 349
Puasa sunnah – 350
1. PUASA RAMADHAN – 350
a. Peersyariatan puasa ramadhan – 350
b. Penetapan Awal Ramadhan – 350
c. Keringanan bagi kaum wanita untuk tidak berpuasa ramadhan - 352
C. SYARAT SAH PUASA – 358
1. Suci dari Haid dan Nifas – 358
2. Niat puasa – 358
D. RUKUN PUASA – 359
1. Menahan dari segala hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenamnya Matahari – 359
E. ETIKA DALAM BERPUASA – 360
1. Makan sahur – 360
2. Menjauhi semua hal yang bertentangan dengna makna puasa – 361
3. Bersikap murah hati (dermawan) dan rajin mengkaji Al-Qur’an – 361
4. Menyegerakan buka puasa – 362
5. Berdoa saat berbuka puasa – 362
6. Berbuka puasa dengan kurma basah, atau kurma kering –jika mudah di dapat-- , atau air – 362
F. HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN SAAT BERPUASA – 362
1. Bersetubuh sebelum terbitnya fajar – 362
2. Dalam keadaan junub di pagi hari saat berpuasa – 363
3. Mencium suami atau bermesraan dengannya tanpa persetubuhan – 363
4. Mandi dan menyiramkan Air ke kepala agar terasa segar --- 364
5. Berkumut dan memasukkan air kehidung secara tidak berlebihan – 364
6. Memakai celak mata, wewangian, pbat tetes mata, suntik dan siwak – 364
7. Berbekam, mendonorkan darah dan melakukan cuci darah , selama tidak membuat tubuh lemah – 365
8. Mencicipi makanan atau mengunyahnya senelum disuapkan kepada bayi – 365
9. Makan dan minum secara tidak sengaja – 366
10. Muntah secara tidak sengaja – 366
G. PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA – 366
1. Perkara yang membatalkan puasa dan mewajibkan Qadha – 366
2. Perkara yang membatalkan puasa serta mewajibkan Qadha dan kafarat – 368
H. PUASA-PUASA SUNNAH – 372
1. Enam hari pada bulan Syawal – 372
2. Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi orang-orang yang tidka berhaji – 373
3. Puasa Asyura (10 Muharram) dan 9 muharram – 373
4. Memperbanyak puasa sunnah pada bulan sya’ban – 374
5. Puasa senin dan kamis – 374
6. Puasa tiga hari setiap bulan (ayamul bidh) – 374
7. Puasa Dawud –375
I. HARI-HARI LARANGAN BERPUASA – 376
1. Hari idul fitri dan idul Adha – 376
2. Hari-hari tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah) – 377
3. Puasa khusu hari jumat – 377
4. Yaum asy-syak – 377
5. Puasa sepanjang tahun—378
6. Puasa wishal – 378
J. I’TIKAF BAGI WANITA – 379
1. Memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan – 379
2. Dasar persyariatan i’tikaf bagi wanita – 380
3. Beberapa hukum i’tikaf bagi wanita – 380
BAB 6 HAJI DAN UMRAH – 385
I. HAJI
A. DEFINISI HAJI DAN HUKUM MELAKSANAKANNYA – 387
B. KEUTAMAAN MELAKSANAKAN HAJI – 388
1. Haji merupakan jihad yang paling Utaman bagi seorang wanita – 388
2. Haji dapat menghapuskan dosa-dosa – 388
3. Balasan haji adalah surga – 388
C. SYARAT WAJIB HAJI BAGI WANITA – 389
Perihal izin seorang wanita kepada suaminya untuk naik haji – 390
D. HUKUM WANITA MENGHAJIKAN ORANG LAIN – 291
1. Ibadah haji boleh diwakilkan – 391
2. Seorang wanita boleh melaksanakan haji untuk wanita lain – 392
3. Seorang wanita juga boleh melaksanakan haji untuk seorang laki-laki – 392
4. Melaksanakan haji dan mengajak anak yang masih kecil – 392
5. Wanita yan gmenghajikan orang lain harus sudah pernah menunaikan haji untuk dirinya sendiri – 392
E. SIFAT HAJI RASULULLAH SAW – 393
1. Sebelum berangkat – 394
2. Ketika ihram – 394
3. Pada saat masuk kota mekah dan melaksanakan thawaf – 396
4. Sa’i antara Shafa dan Marwa – 397
5. Tahallul – 398
6. Hari tarwiyah (8 dzulhijjah) – 398
7. Hari Arafah (9 Dzulhijjah) – 398
8. Bermalam di muzdalifah – 399
9. Hari Nahr—penyembelihan—(10 dzulhijjah) – 399
a. Pergi ke mina untuk melempar jumrah – 399
b. Kembali ke mekah dan melakukan thawaf ifadah – 400
10. Kembali ke Mina – 400
11. Hari-hari tasyrik – 400
12. Thawaf wada’ sebelum pulang – 401
F. RUKUN HAJI – 402
1. Ihram – 402
Niat tersebut wajib dilakukan di Miqat – 402
Macam-macam Ihram – 403
Beberapa hal terkait masalah di atas – 404
Sunnah-sunnah dan adab ihram bagi wanita – 406
Bacaan talbiah adalah: -- 409
Hal-hal yang dilarang bagi perempuan selama ihram – 410
PERHATIAN: -- 416
Hal-hal yang boleh dilakukan oleh wanita selama berihram – 416
Ketika masuk kota mekah – 419
Hal-hal yang tidak boelh dilakukan di tanah suci – 420
2. Thawaf – 421
a. Maca-macam thawaf – 421
b. Syarat-syarat thawaf – 424
c. Sunnah-sunnah thawaf – 425
1) Menyentuh dan mengusap hajar aswad dengan tangan – 425
2) Mencium hajar aswad – 425
3) Menyentuh rukun yamani – 425
4) Bertakbir di depan hajar aswad seraya melambai ke arahnya – 426
5) Berdoa di antara rukun yamani dan hajar aswad – 426
6) Berwudhu sebelum melakukan thawaf – 427
7) Mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat setelah melakukan thawaf di belakan gmaqam Ibrahim -- 427
8) Mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat, disunnahkan untuk membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash – 427
9) Kembalo ke hajar aswad untuk menyentuhnya sebelum melakukan sa’i jika memungkinkkan – 427
10) Meminum air zamzam dan membasuhkannya ke kepala – 428
3. Sa’i di antara Bukit Shafa dan Marwa -- 428
4. Wukuf di Arafah (rukun yang terbesar) – 430
G. SUNNAH-SUNNAH HAJI – 430
1. Berihram haji dari Mekah, pada hari tarwiyah – 430
2. Mengerjakan shalat dzuhur, dan ashar secara jamak, magrib dan isya di Mina, pada hari tarwiyah – 430
3. Bermalam (mabit) di Mina, sampai shalat subuh dan matahari terbit. – 430
4. Mengerjakan shalat dzuhur dan ashar secara jamak dan qashar di Namirah, pada hari Arafah – 430
5. Tidak menninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam – 430
H. PERKARA-PERKARA YANG WAJIB DALAM HAJI – 431
I. HADYU (HEWAN SEMMBELIHAN) – 434
1. Pengertian dan hukum Hadyu – 434
2. Jenis-jenis Hadyu – 435
3. Waktu dan tempat pelaksanaan penyembelihan – 436
4. Bolehkah daging Hadyu dibagikan di luar Tanah Haram? – 437
5. Cara memanfaatkan daging Hadyu – 438
6. Jika engkau tidak mampu membelu Hadyu wajib – 439
II. UMRAH
A. DEFINISI UMRAH – 440
B. HUKUM UMRAH – 440
C. RUKUN UMRAH – 441
D. PERKARA WAJIB DALAM UMRAH – 441
E. KEUTAMAAN UMRAH – 442
F. WAKTU PELAKSANAAN UMRAH – 442
G. HUKUM MENJALANKAN UMRAH BERKALI-KALI – 443
H. ZIARAH KE KOTA MADINAH – 444
1. Keutamaan kota Madinah – 444
2. Keutamaan masjid Nabawi d an melaksanakan Shalat di dalamya – 444
3. Adab berziarah ke masjid Nabawi dan ke Makam Rasulullah – 445
4. Masjid Quba’ – 448
5. Baqi’ dan Uhud – 448
6. Tempat-tempat ziarah (Mazarat) – 449
BAB 7 SUMPAH DAN NADZAR – 451
I. SUMPAH (AIMAN)
A. DEFINISI SUMPAH (AIMAN) – 453
B. ADAB-ADAB BERSUMPAH – 453
1. Menghindari sering bersumpah – 453
2. Sumpah hanya dapat dilakukan dengna Nama atau Sifat Allah – 454
3. Bersumpah dengna selain Nama Allah termasuk perbuatan Syirik – 456
4. Bila tanpa sadar engkau terlanjur besumpah dengan Nama selain Allah, hendaklah engkau segera mengucapkan “laa ilaaha illallah” – 456
5. Apabila engkau bersumpah bahwa engkau memeluk agama lain selain islam ], walaupun dengkau berdusta, maka keberadaanmu saat itu seperti apa yang engkau ucapkan – 457
6. Jika ada seseorang bersumpah kepadamu dengna Nama Allah, maka engkau harus menerima dan mempercayai sumpah itu – 457
C. MACAM-MACAM SUMPAH – 458
1. Sumpah Laghwu – 458
2. Sumpah palsu – 459
3. Sumpah yang sah – 461
D. KAFARAT – 465
II. NADZAR
A. DEFINSI NADZAR – 468
B. PERSYARIATKAN NADZAR – 468
C. MACAM-MACAM NADZAR – 469
1. Nadzar mutlak – 469
2. Nadzar Mu’allaq – 469
D. BEBERAPA HAL YANG TERKAIT DENGAN HUKUM NADZAR – 469
BAB 8 MAKANAN DAN MINUMAN – 475
I. MAKANAN
A. DEFINISI MAKANAN – 477
B. MAKANAN YANG DIHARAMKAN – 479
1. Bangkai binatang – 479
2. Darah yang dialirkan – 480
3. Daging babi – 480
4. Hewan yang disembelih dengna menyebut nama selain Allah – 481
5. Daging keledai peliharaan – 481
6. Daging binatang buas dan burung bercakar – 482
7. Daging dan susu hewan jallalalh – 482
8. Setiap binatang yang disyariatkan untuk dibunuh – 483
9. Binatang yang tidak boleh dibunuh – 483
10. Setiap binatang yang mengjijikan – 484
C. HUKUM MEMAKAN DAGING IMPOR – 484
D. MEMAKAN MAKANAN YANG HARAM DALAM KONDISI DARURAT – 485
E. BEROBAT DENGAN SESUATU YANG DIHARAMKAN – 485
F. PENYEMBELIHAN SYAR’I – 487
1. Definisi penyembelihan – 487
2. Syarat-syarat penyembelihan – 488
3. Adab dan tata cara penyem,belihan – 489
4. Cara menyebelih anak hewan yang masih dalam perut induknuya – 490
G. HEWAN UDHIYAH (KURBAN) – 491
1. Definisi kurban – 491
2. Hukum menyemelih Uhdiyah – 491
3. Waktu penyembelihan hewan Udhiyah – 492
4. Tempat penyembelihan hewan kurban – 492
5. Beberapa persoalan seputar hewan Udhiyah (kurban) – 492
6. Hewan yang tidak sah untuk udhiyah (kurban) – 494
7. Makan dan menyedekahkan daging kurban – 495
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN: -- 496
H. AQIQAH – 496
I. ADAB DAN ETIKA MAKAN BAGI WANITA – 497
1. Membaca basmalah sebelum makan – 497
2. Menggunakan tangan kanan dan tidak mengambil makanan yang ada dihadapan orang lain jika sedang makan bersama dari satu nampan yang sama – 498
3. Tidak makan sambil bersandar – 498
4. Tidak mencela makanan yang tidak disukai – 498
5. Makan bersama dan tidak makan sendirian – 498
6. Menjilat jari-jari tangan sebelum membasuh atau mengelapnya – 499
7. Bila ada sebagian dari makanan yang sedang engkau mekan terjatuh, ambillah yang terjautuh itu, lalu bersihkanlah kotoran yang menempel padanya, setelah itu makanlah dan janganlah engkau membuangnya – 499
8. Membasuh dan mencuci tangan sesudah setelah makan – 500
9. Membaca hamdalah seytelah makan – 500
10. Setelah itu membaca doa setelah makan – 500
11. Disunnahkan pula untuk mendoaka orang yang memberi makan – 501
II. MINUMAN
A. DASAR-DASAR HUKUM MENGENAI MINUMAN – 502
B. ADAB MINUM – 505
C. WADAH MAKAN DAN MINUM 507
BAB 9 PAKAIAN DAN PERHIASAN – 511
I. PAKAIAN WANITA MUSLIMAH – 513
A. DALIL WAJIBNYA MENUTUP AURAT – 513
B. PAKAIAN WANITA TERHADAP YANG BUKAN MAHRAM – 514
C. SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH – 515
1. Menutupi seluruh tubuh – 515
2. Tidak terlalu mencolok – 521
3. Kainnya harus tebal (jangan terlalu tipis dan tembus pandang) – 524
4. Longgar dan tidak ketat – 524
5. Hendaknya tidak diolesi atau disemprot wewangian (parfum) – 525
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki – 536
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir – 536
8. Bukan termasuk pakaian Syuhrah – 527
D. HAL-HAL PENTING TERKAIT PAKAIAN WANITA – 527
1. Wanita boleh memakai kain sutra – 527
2. Batas ujung bawah pakaian wanita – 528
Dari manakah ukuran sejengkal itu dihitung pada pakaian wanita? – 529
3. Hukum wanita memakai celana panjang – 529
4. Sandal atau sepatu wanita dengan Hak tinggi – 530
E. PAKAIAN WANITA MUSLIMAH DIHADAPAN MAHRAMNYA – 530
Anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahram --- 532
F. PAKAIAN WANITA DI HADAPAN SESAMA WANITA – 534
G. PAKAIAN MUSLIMAH DI DEPAN BUDAK SAHAYA – 537
H. HUKUM MEMPERLIHATKAN AURAT DENGAN LAKI-LAKI YANG TIDAK BERSYAHWAT TERHADAP WANITA MUSLIMAH – 538
I. MEMPERLIHATKAN AURAT DI HADAPAN ANAK-ANAK YANG BELUM MENGERTI KEBIASAAN DAN AURAT WANITA – 539
J. PAKAIAN DAN AURAT WANITA DI HADAPAN SUAMINYA – 540
K. PERSOALAN-PERSOALAN TERKAIT HUKUM MELIHAT WANITA – 541
1. Hukum laki-=laki melihat wanita yang bukan mahramnya – 541
2. Hukum wanita meliohjat laki-laki yang bukan mahramnya – 548
L. ADAB DAN TATA CARA BERPAKAIAN WANITA – 553
II. PERHIASAN – 555
A. PERHIASAN WANITA MUSLIMAH – 555
B. MACAM-MACAM PERHIASAN KAUM WANITA – 556
1. Perhiasan rambut – 556
2. Menghias gigi – 560
3. Hukum menggunakan wewangian – 561
4. Menghias mata dengan celak – 565
5. Menyemir rambut – 566
6. Bedak (make up) dan sejenisnya bahaya dan manfaat alat-alaat kecantikan – 568
7. Menggunakan perhiasan dari emas dan perak – 573
8. Hukum tato bagi wanita – 575
9. Hukum operasi kecantikan – 576
10. Hukum memakai lensa berwarna – 580
Hukum sedot lemak – 583
BAB 10 PERNIKAHAN – 585
1. PENDAHULUAN TENTANG PERNIKAHAN DAN BERBAGAI HAL YANG TERKAIT DENGANNYA – 587
A. ANJURAN MENIKAH – 587
B. HUKUM NIKAH – 589
C. MANFAAT NIKAH – 591
D. WANITA YANG HARAM UNTUK DINIKAHI – 592
1. Wanita yang haram untuk dinikahi selamanya – 593
2. Wanita yang haram dinikahi dalma keadaan tertentu – 604
2. BEBERAPA PERNIKAHAN YANG TIDAK SAH MENURUT SYARIAT ISLAM – 612
A. NIKAH SYIGHAR – 612
B. BIKAH MUHALLIL – 612
C. NIKAH MUT’AH – 615
D. NIKAH ‘URFI – 617
3. KRITERIA CALON SUAMI DAN ISTRI – 624
A. KRITERIA SEORANG ISTRI – 619
B. KRITERIA SEORANG SUAMI – 621
4. KHITBAH (MEMINANG) – 624
A. KEPADA SIAPAKAH PINANGAN DISAMPAIKAN? – 624
B. HUKUM MELIHAT WANITA YANG AKAN DIPINANGN (NADZAR) –626
C. HUKUM WANITA YANG DIPINANG MEMANDANG LELAKI PEMINGANG—630
D. HUKLUM MEMUSYAWARAHKAN PINANGAN DAN MENYEBUTKAN (KEKURANGAN) LAKI-LAKI YANG MEMINANG – 630
E. SHALAT ISTIKHARAH DALAM PROSES PEMINANGAN – 631
F. MELAMAR WANITA YANG TELAH DILAMAR LAKI-LAKI LAIN – 633
G. MELAMAR WANITA YANG MASIH DALAM MASA IDDAH – 634
H. MEMINANG MELALUI PERANTARA – 636
I. HUKUM PEMERIKSAAN KESEHATAN SEBELUM MENIKAH – 637
5. AKAD NIKAH – 642
A. RUKUN DAN SYARAT SAH AKAD NIKAH – 642
B. PEMNGAJUAN SYARAT DALAM AKAD NIKAH – 646
Hukum Nikah Misyar – 647
6. MASKAWIN (MAHAR) – 651
A. PENGERTIAN MAHAR – 651
B. HUKUM MAHAR – 651
C. JIKA MAHAR TIDAK DISEBUTKAN ADALAM AKAD NIKAH – 653
D. TIDAK ADA BATASAN MAKSIMAL UNTUK MAHAR – 653
E. TIDAK ADA BATASAN MINIMAL UNTUK SEJUMLAH (NILAI) MAHAR – 654
F. HUKUM MEMINTA MAHAR SECARA BERLEBIHAN – 655
G. MAHAR ADALAH HAK ISTRI, BUKAN UNTUK PARA WALINYA – 659
H. KAPAN SEORANG ISTRI BERHAK MENDAPATKAN SELURUH MAHARNYA? – 659
I. MENYEGERAKAN DAN MENUNDA PEMBERIAN MAHAR – 664
7. MENGUMUMKAN PERNIKAHAN – 668
A. HUKUMNYA – 668
B. CARA MENGUMUMKAN PERNIKAHAN 668
C. KEMUNKARAN SAAT PESTA PERNIKAHAN – 670
8. RESEPSI PERNIKAHAN (WALIMATUL ‘URS) – 675
A. PENGERTIAN WALIMAH – 675
B. HUKUM WALIMAH – 675
C. WAKTU PELAKSANAAN WALIMAH – 676
D. UNDANGAN WALIMAH – 676
E. HUKUIM MENGHADIRI UNDANGAN WALIMAH – 676
F. KAPAN TIDAK MENGHADIRI UNDANGAN WALIMAH DIPERBOLEHKANN? --- 678
G. HUKUM MEMPELAI WANITA MENJAMU TAMU-TAMU SUAMINYA – 679
H. DOA DAN UCAPAN SELAMAT UNTUK PENGANTIN – 679
I. UCAPAN UNTUK DUA MEMPELAI – 680
J. DISUNNAHKAN MEMBERI HADIAH KEPADA KEDUA MEMPELAI – 680
9. ADAB MALAM PERTAMA DAN JIMA’ – 681
A. ADAB MALAM PERTAMA – 681
B. ADAB-ADAB JIMA’ (BERSETUBUH) – 683
C. MENCEGAH KEHAMILAN – 689
D. INSEMINASI BUATAN – 689
10. HAK-HAK SUAMI ISTRI – 692
A. HAK-HAK SUAMI ATAS ISTRINYA – 692
B. HAK-HAK ISTRI ATAS SUAMINYA – 700
C. HAK BERSAMA ANTARA SUAMI DAN ISTRI – 711
BAB 11 TALAK DAN PERCERAIAN – 737
1. TALAK DAN HUKUMNYA – 739
A. DEFINISI TALAK – 739
B. HUKUM TALAK – 739
1. Terkadang menjadi wajib – 739
2. Terkadang sunnah – 739
3. Mubah – 740
4. Makruh – 740
5. Haram – 741
C. SYARAT-SYARAT TALAK – 741
1. Syarat-syarat yang harus dipenuhi pada suami yang menjatuhkan talak – 741
2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dari pihak istri yang di talak – 746
3. Syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam Sighah ( pernyataan ) talak – 746
D. MACAM-MACAM TALAK – 749
1. Talak sunnah dan talak bid’ah – 750
2. Talak raj’i dan talak ba’in – 756
3. Talak munajjaz, mudhaf, dan mu’allaq – 763
E. NAFKAH DAN TEMPAT TINGGAL BAGI ISTRI YANG DITALAK – 766
F. MASA IDDAH WANITA YANG DI TALAK – 770
2. KHULU’ – 774
A. PENGERTIAN KHULU’ – 775
B. DASAR PERSYARIATAN KHULU’ – 775
C. SEOPRANG ISTRI TIDAK BOLEH MEMINTA KHULU’ TANPA ADA SEBAB SYAR’I – 776
D. PERMINTAAN KHULU’ ISTRI TIDAK BOLEH DITAHAN DENGAN MAKSUD UNTUK MERUGIKANNYA – 777
E. APAKAH KHULU’ DIANGGAP SEBAGAI SATU TALAK? – 777
F. MASA IDDAH WANITA YANG DI-KHULU’ – 780
3. LI’AN – 781
A. PENGERTIAN LI’AN – 781
B. DASAR PERSYARATAN LI’AN – 781
C. TATA CARA LI’AN – 781
D. HUKUM YANG MUNCUL DARI TERJADINYA LI’AN – 784
4. ILA’ – 788
A. PENGERTIAN DAN HUKUM ILA’ – 788
B. HUKIUM SEORANG ISTRI YANG KEHILANGAN SUAMINYA – 790
5. ZHIHAR – 791
A. PENGERTIAN DAN HUKUM ZHIHAR – 791
B. HUKUM AKIBAT YANG MUNCUL DARI ZHIHAR – 791
6. PERCERAIAN KAREAN SALAH SATU PASANGAN SUAMI ISTRI MASUK ISLAM – 794
A. JIKA SEORANG WANITA TELAH MASUK ISLAM DAN SUAMINYA TETAP KAFIR – 794
B. APABILA SEORANG LAKI-LAKI MASUK ISLAM DAN ISTRINYA TETAP KAFIR – 796
BAB 12 HARTA DAN WARISAN – 797
A. DEFINISI NAWARIS – 799
B. HARTA WARISAN – 799
C. SEBAB-SEBAB SEORANG MENDAPATKAN WARISAN – 800
D. PENGHALANG-PENGHALANG MENDAPATKAN HAK WARIS – 800
E. AHLI WARIS – 801
F. HAK/ BAGIAN WARISAN PARA AHLI WARIS WANITA – 803
G. HAJB (PENGHALANG) – 808
PENUTUP – 811

checkout empty

Items

Total

total
qty
tax
taxrate
shipping
grandtotal
Setiap hari 09:00 - 18:00 WIB (kecuali hari libur nasional)
Somontalen RT 02 RW 04, Gang Mangga, Ngadirejo, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57556
Copyright © Buku Bagus 2020
envelope-owhatsappshopping-bag linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram